Senin, 19 Desember 2011

UTS Sejarah Pengembangan Masyarakat Islam


Dosen Pengampu Drs. H. Syamsudin RS. M Ag.

A.    Karakteristik Masyarakat Arab Pra Islam
a.      Sistem kepercayaan
Sistem kepercayaan masyarakat arab jahiliyah adalah animisme, mereka menyembah berhala dan patung-patung yang dianggap sebagai wasilah peribadahan mereka. Diantara berhala yang mereka sembah dan dianggap sebagai senior adalah Latta, Uza, Manat, Hubbal.
Sistem kepercayaan masyarakat Arab pra Islam juga merupakan alasan kenapa mereka disebut dengan Masyarakat Jahiliyah yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh al-Qathan;
·         Tidak adanya ilmu pengetahuan
·         Meyakini sesuatu secara salah
·         Mengerjakan sesuatu dengan menyalahi aturan atau tidak mengerjakan seharusnya dia kerjakan.
b.      Sistem sosial
Sistem sosial yang berkembang pada masyarakat jahiliyah adalah Liberalisme buta. Sebelum Muhammad Saw. diutus sebagai Nabi, Kondisi sistem sosial arab jahiliyah (kaum Qurais) sangat memprihatinkan, dimana hak para wanita telah terkubur hidup-hidup bersama raga mereka, peperangan dan pertumpahan darah di antara mereka sudah menjadi hiburan kesehariannya seperti halnya mabuk, jinnah dan judi. Oleh karena itu, kehidupan sosial mereka sangat anarkis dan menggunakan hukum rimba, sehingga kedatangan Nabi Muhammad sebagai Rasul sangat tepat dengan “Litukhrijannaasi Minazzhulumaati Ila Nuur”(QS. Al-baqoroh:257). yaitu menegeluarkan masyarakat manusia dari keterpurukan sosial, moral, dan intelektual kepada pencerahan nur. (social Enginering  Less and presley, social change habermash, social planing M.N. Ross, change management Ira Kaufman). (Aang Ridwan. materi perkuliahan mata kuliah sejarah peradaban islam, jurusan BPI, KPI, MD, Humas dan PMI FIDKOM UIN SGD BDG:2006/2007)
Menjelang datangnya islam di bumi Mekkah, pada saat itu Mekkah satu-satunya daerah yang terbebas dari pengaruh ajaran, politik, budaya, dan agama dari luar, sehingga masyarakatnya cenderung inklusif dibawah pemerintahan kerajaan-kerajaan kecil yang dikuasai oleh kafilah-kafilah Quraiys.
B.     Karakteristik masyarakat islam
1.      Masa Rasulullah saw.
a.      Aqidah yang kokoh
Ditengah kekacauan dan carut-marutnya sistem kemanusiaan pada masa jahiliyah tampaknya kedatangan Rasulullah merupakan sebuah anugerah besar yang sangat didambakan oleh umat amnusia pada waktu itu. Ketertindasan masyarakat law class oleh kalangan high class, pelecehan terhadap wanita dan peperangan yang tiada henti mendapatkan sebuah warna baru bagi mereka yaitu al-Islam yang mengajarkan arti kehidupan dengan kedamaian dan kasih sayang.
Ajaran Islam yang membukau menjadi faktor pembentuk karakter masyarakat yang memiliki aqidah kuat, istoqomah (konsisten) dalam beramal (berkarya). Kokohnya aqidah umat Islam pada masa Rasulullah Saw. Tergamabar dalam setiap langkah hidup mereka yang selalu membatasi prilaku, ucapan, dan keyakinan mereka hanya dengan Islam serta lebih jauhnya lagi mereka senantiasa turut berperang menggencarkan dan menghancurkan musuh-musuh Allah dari kalangan munafiqin, musyrikin dan kafirin.
b.      Konsisten dalam beramal
Sebagai sampel masyarakat madani, kaum muslimin pada masa Rasul Saw. Memiliki konsistensi yang cukup tinggi dalam beramal dan berkarya sehingga mereka mampu mengejewantahkan semua ajaran islam dalam kehidupan mereka secara komfrehensif dan universal. Sehingga, kesungguhan dan kekonsistenan umat Islam dalam beramal telah membuahkan hasil berupa karya besar (menyimpan al-quran dan hadist) dalam bentuk hapalan dan aplikasi maka dari itulah, kemurnian al-quran tetap terjaga sampai pada masa kodifikasi, pembukuan dalam bentuk mushaf yang sampai saat ini dan tidak pernah diragukan kebenarannya. Dinamika ini sangat jauh berbeda dengan apa yang kita lihat dan kita rasakan sekarang karena konsistensi dalam beramal tampaknya telah mengalami penyederhanaan yang keterlaluan sehingga amal shaleh hanya berbatas kotak amal.
c.       Kepemimpinan yang berwibawa
Hal yang paling penting dalam terwujudnya sebuah model masyarakat madani adalah bahwa pembawa risalah (Rasulullah Saw) yang tampil sebagai sampel kepemimpinan yang penuh wibawa, dengan menampilkan keteladanan sebagai enginer, Rasulullah Saw. Terutama pada priode madinah melancarkan sejumlah aksi pembangunan masyarakat yang berorintasi pada peradaban “masyarakat madani” yaitu diantaranya adalah:
1.      Pembangunan masjid Quba sebagai langkah awal simbolis bahwa pembanguna masyarakat Islam harus dimulai dari masjid. Karena itu,benarlah apa yang dikatakan oleh Sidi Gazalba, bahwa masjid bukan semata sebagai tempat sembahyang, melainkan juga sebagai pusat peradaban.
2.      Pembentukanl lembaga ukhuwah antara kalangan muhajirin dan kalangan anshar, yang menyimbolkan betapa masyarakat Islam membutuhkan basis organisasi yang kukuh dan teguh demi integrasi umat. Ini yang kemudian diambil oleh dunia menejemen modern yang meniscayakan adanya teamwork untuk meraih sesuatu yang jauh lebih besar.landasan politis yang menjami
3.      Piagam madinah mengajarkan  bahwa pembinaan masyarakat Islam memerlukan semacam memorandum of agreement sebagai landasan politis yang menjamin integrasi sosial[1].

d.      Interaksi sosial yang harmonis dengan kalangan non-Muslim
Berbagai tindakan diplomatis dan bernuansa strategi telah berhasil dilancarkan oleh Rasulullah Saw. yaitu dalam berbagai perjanjian dengan kalangan non muslim, dan salah satunya adalah piagam Madinah, yang kemudian mampu membangun interaksi sosial (hubungan) dengan yahudi Madinah secara harmonis. Hal ini menunjukan bahwa, bagi umat Islam, kepiawaian berpolotik juga penting dalam pembangunan masyarakat, karena salah satu faktor eksternal penghambat proses pembangunan dan pengembangan masyarakat Islam adalah hubungan yang kurang harmonis dengan komunitas non muslim.
2.      Masa Khulafaurrasyidin
a.      Masyarakat berkembang dengan prinsif Musyawarah
Wafatnya Rasulullah Saw. bagaikan sebuah instruksi amandmen sehingga terjadi perubahan tradisi dan tatanan politik umat Islam pada tubuh kaum muslimin pada masa khulafaurrasyidin. Kepergian seorang figur sentral umat Islam (Nabi Muhammad Saw.), mengundang sejumlah persoalan baru bagi para sahabat terutama dalam masalah politi yaitu, siapakah yang akan tamppil sebagai pengganti kepemimpinan Beliau[2].
Perdebatan mengenai hal tersebut cukup memanas sehingga, seandainya pembinaan aqidah islamiyah yang dilakukan Rasul belum sampai pada target yang sempurna maka hampir saja terjadi pertumpahan darah antara kalangan muhajirin dan kalangan anshar. Akan tetapi masyakat Islam pada saat itu mampu memperlihatkan karakter mendasar, diantaranya masyarakat mengambil sebuah solusi tepat (prinsif musyawarah yang kuat) dan pada akhirnya Abu Bakar as-Shidiq (abdullah bin abu Quhafah at-Tamimi) dibaiat sebagai khalifah pertama pengganti kepemimpinan Rasul saw. prinsif musyawarah ini dilakukan untuk mengembangkan diri diluar pantauan Rasulullah secara langsung dengan menarik persetujuan para pemuka masyarakat. Sehingga, keadilan dan keharmonisan tetap terjaga selama beberapa dekade pergantian kepemimpinan (khulafaurrasyidin), dengan menjalankan prinsif keterbukaan baik dalam lingkungan internal masyarakat Islam juga dalam lingkungan eksternal dengan skala internasional (lihat Agus Ahmad -Syafei. pengembangan masyarakata islam dari ideologi,strategi sampai tradisi. Hal 22, dan Kahar Muzakar Hasbi. Sejarah Perkembangan Kebudayaan Dan Peradaban Islam. hal.58-60).
b.      Mulai bergerak dan berinteraksi secara terbuka dalam skala internasional
Selain program besar yang dijalankan oleh Khalifah Abu Bakar yaitu penumpasan terhadap kaum murtadin dan para pembangkang di tubuh intern masyarakat Islam, persoalan eksternal seperti, kekacauan yang terjadi di atas tanah Persia yang selalu bertempur dengan Erova yang masih dalam masa kegelapan (kerajaan Romawi Timur/Bizantium)  juga mengundang umat Islam untuk bereaksi ditengah perpecahan Persia yang mengalami dekadensi sehingga mampu memanfaatkan kesempatan ini dan tampil sebagai pemberdaya. Kejadian ini merupakan bukti dari Nabi Saw. ketika beliau mengirimkan surat pada raja Persia (Kisra) namun kemudian Kisra merobek-robek surat beliau maka nabi berkata “semoga Allah merobek-robek kerajaannya sebagimana dia merobek-robek suratku. Dia mengirimkan sekantong pasir kepadaku dan kelak kalian akan menguasai seluruh tanah negerinya”[3]. Dan setelah kisra dibunuh oleh puteranya sendiri Syiraweh maka dari sinilah umat islam mulai membangun interaksi secara terbuka dengan persia dan skala internasional, sampai akhirnya mampu menundukan Bizantium itu sendiri.

 3.      Masa Bani Umayyah
a.      Masyarakat berkembang dengan kepemimpinan (politik) otoritarianistik (monarcy)
Setelah priode khulafaurrasyidin berakhir, maka tampilah Muawiyah bin abu Sufyan sebagai penerus kepemimpinan masyarakat Islam yang sebetulnya telah membidik tambuk kekuasaan semenjak khalifah Ali ra. masih berkuasa. Terpilihnya Muawiyah sebagai pemimpin Islam, maka nuansa politik pun kembali mengalami perubahan yang sangat signifikan, tradisi musyawarah sudah mulai dilupakan karena pada masa ini peran kalangan dianggap sebagi hal yang sangat berarti dalam kancah perpolitikannya. Oleh sebab itu, faktor penguasa pada masa ini sangat mendominasi terhadap pembangunan dan pembentukan kebudayaan yang beraneka ragam[4].
Pada masa ini pulalah masyarakat islam bersentuhan dengan pola kepemimpinan tertutup dan otoritarianistik yang dikembangkan oleh muawiyyah dan keturunannya. Ada beberapa point yang menjadi faktor berkembangnya masyarakat Islam di bawah kepemimpinan otoritarian muawiyyah, di antaranya asalah;
1)      Penyusuna admistrasi cukup baik dan dibina atas dasar administrasi bizantium.
2)      Mengangkat para penasehat yang cakap dalam masalah keuangan dan ini dipercayakan pada orang kristen.
3)      Tingkat kebudayaan yang sudah maju dari orang arab yang telah pindah ke syiria dan telah mendiami daerah ini sejak sebelum Islam.
4)      Menanamkan rasa toleransi yang mantap antar berbagai Agama.
5)      Faktor pengembangan wilayah dan pembinaan kebudayaan Islam.
6)      Pemindahan ibu kota sebagai pusat kegiatan pemerintah ke Damaskus.
7)      Menghidupkan kembali jalur perdagangan Teluk Persia yang selama masa konfrontasi dengan bizantium dengan persia tidak berfungsi.
8)      Memiliki kekuatan politik dan militer, sehingga telah berhasil menaklukan beberapa daerah di Afrika Utara tahun 50 H/670 M. Lembah Indus dan Lahore tahun 44 H/664 M.
9)      Menunjuk putera mahkota Yazid sebagai pengganti khalifah, kebijaksanaan ini, sehingga mengejutkan lawan-lawannya.[5]

Perkembangan lain terjadi pada masa dua khalifah lain yaitu, masa Abdul malik 65-96 H/685-705 M. dan pada masa Walid bin Abdul Malik 86-96H/705-715 M. kedua khlifa ini telah membawa perubahan penting dalam kancah politik dan Negara serta meluaskan kekuasaan, dan mulai menjalankan politik kebudayaan “ARABISASI”, yaitu mengutamakan unsur arab dalam pembinaan kebudayaan islam.
b.      Pertumbuhan ekonomi tinggi hasil perdagangan
Dengan dipindahkannya ibu kota negara ke daerah Damaskus dan dibukaknnya kembali jalur perdagangan di Teluk Persia maka jelaslah masyarakat islam Arab, khusunya kaum saudagar yang sejak dulu telah menguasai jalur  perdagangan yang menghubungkan India dengan venezia di Laut mediterania, dan sekarang memiliki peluang baru untuk menguasai jalur perdagangan teluk Persia semakin berkembang dan memberikan pengaruh besar terhadap pertumbuhan perekonomian Negara dari hasil perdagangan mereka[6].
Selain itu, subsidi pada sektor pertanian juga menjadi faktor pendukung terhadap perkembangan ekonomi masyrakat. Pada masa Bani Umayyah ini masyarakat sudah dikenalkan dengan sistem pengairan berbasis teknologi seperti pembuatan sumur dan irigasi-irigasi yang bertujuan untuk meningkatkan hasil pertanian, sektor industrialisasi juga menjadi nadi pertumbuhan ekonomi bagi Umayyah.
Salah satu target dari para penguasa bani Umayyah yang menjadi grand target nya adalah; aspek internalnya adalah kekuatan militer dan konsolidasi politik, sementara aspek eksternalnya adalah perluasan kekuasaan ke seluruh penjuru dunia, sehingga bidang ekonomi dan dan militer mencapai keberhasilan yang gemilang akan tetapi, perkembangan Ilmu Pengetahuan pada masa Bani Umayyah tidak begitu berkembang.
4.      Masa bani Abbasiyah
a.      Masyarakat berkembang dengan kepemimpinan (politik) otoritarianistik (monarcy)
Dinamika pengembangan masyarakat Islam pada masa Daulah bani Abbasiyah sebetulnya tidak dimuali sejak berdirinya daulah ini akan tetapi sebagai lanjutan dari kebangkitan Islam pada masa Bani Umayyah. Ada beberapa faktor yang mempengruhi terhadap pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Islam pada masa ini baik secara intrnal maupun eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi terhadap perkembangan masyarakat Islam diantaranya adalah kereatifitas tiga khalifah daulah Abbasiyah (al-Mansyur 158 H-775 M, al-Rasyid 193 H-809 M, dan al-Ma’mun 218 H-833 M)[7], selain itu tingkat peradaban dan intelektual masyarakat yang sudah maju juga mempermudah terhadap perkembangan masyarakat secara umum. Adapun faktor eksternal salah satunya adalah dengan dipindahkannya ibu kota pemerintahan dari Khufah ke Baghdad yang merupakan tempat kediaman orang-orang persia, sementara itu masyarakat persia sudah mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan teknologi, lahirnya kaum filsuf yang memilliki keterampilan berbahasa arab dan asing sehingga mudah untuk menterjemahkan buku-buku dari berbagai penjuru dunia ke dalam bahasa Arab, dan seiring dengan perluasan kekuasaannya massyarakat Islam telah mengalami akulturasi budaya dan pengetahuan sehingga mereka berasimilasi dengan peradaban barat tanpa merubah prinsif-prinsif theologi mereka.
Masa Abbasiyah menjadi tonggak puncak peradaban Islam. Khalifah-khalifah Bani Abbasiyah secara terbuka mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan dengan mendatangkan naskah-naskah kuno dari berbagai pusat peradaban sebelumnya untuk kemudian diterjemahkan, diadaptasi dan diterapkan di dunai Islam. Para ulama’ muslim yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan baik agama maupun non agama juga muncul pada masa ini. Pesatnya perkembangan peradaban juga didukung oleh kemajuan ekonomi imperium yang menjadi penghubung dunua timur dan barat. Stabilitas politik yang relatif baik terutama pada masa Abbasiyah awal ini juga menjadi pemicu kemajuan peradaban Islam[8].

            Ada beberapa sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Abbasiyah, dan mempengaruhi perkembangan masyarakat Islam, yaitu;
a. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab murni, sedangkan pejabat lainnya diambil dari kaum mawalli.
b. Kota Bagdad dijadikan sebagai ibu kota negara, ang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan ataupun kebudayaan serta terbuka untuk siapa saja, termasuk bangsa dan penganut agama lain.
c. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang mulia, yang penting dan sesuatu yang harus dikembangkan.
d. Kebebasan berpikir sebagai hak asasi manusia.[9]
b. Pertumbuhan ekonomi tinggi hasil perdagangan
Ekonomi imperium Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan. Sudah terdapat berbagai macam industri seperti kain linen di Mesir, sutra dari Syiria dan Irak, kertas dari Samarkand, serta berbagai produk pertanian sepertigandum dari mesir dan kurma dari iraq. Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyahdan Negara lain.
Karena industralisasi yang muncul di perkotaan ini, urbanisasi tak dapat dibendung lagi. Selain itu, perdagangan barang tambang juga semarak. Emas yang ditambang dari Nubia dan Sudan Barat melambungkan perekonomian Abbasiyah.
Perdagangan dengan wilayah-wilayah lain merupakan hal yang sangat penting. Secara bersamaan dengan kemajuan Daulah Abbasiyah, Dinasti Tang di Cina juga mengalami masa puncak kejayaan sehingga hubungan perdagangan antara keduanya menambah semaraknya kegiatan perdagangan dunia.[10]

c. Capaian ilmu dan teknologi tinggi (Golden Age of Islam)
Bani Abbas mewarisi imperium besar Bani Umayah. Terlebih lagi setelah al-Mansur (754-775 M) sebagai khalifah kedua daulah Abbasiyah memindahkan pusat pemerintahannya ke Baghdad dan bergabung dengan penduduk Persia yang sudah maju dalam bidang pengetahuan. Hal yang tidak kalah penting adalah bahwa, bani Abbasiyah juga mewarisi imperium peninggalan Daulah Bani Umayah yang besar.
Daulah Abbasiyah dikenal dengan‘’The Golden Age of islam’’. masa pencapaian puncak kemuliaan Islam, baik dalam bidang ekonomi, peradaban maupun kekuasaan. perkembangan berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti, filsafat dengan tokohnya al-Kindi, Ibnu Rusyd dan yang lainnya, matematika dan kedokteran dengan tokohnya Ibnu Syina, ditambah lagi dengan semarak kehadiran para penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
C.    Konsitusi (Piagam Madinah)
Mengenai piagam Madinah, maka tidak ada yang bisa menyangkal lagi bahwa Rasulullah Saw. adalah proklamator Islam yang sangat diplomatis dalam berpolitik. Hal ini didukung oleh seorang sosiolog ternama Barat, Robert N. Bellah, dia mengatakan bahwa Piagam Madinah yang disusun Rasulullah itu dinilai sebagai konstitusi termodern di zamannya, atau konstitusi pertama yang pernah ada di dunia, dan bahkan sampai sekarang pun belum terulangi lagi adanya sebuah perjanjian yang sanat adil dan sangat bijaksana sepeti itu.
Betapa tidak demikian, karena jika kita perhatikan teks piagam madinah tersebut begitu luar biasa, sehingga mampu meredam kompleksitas permasalahan sosial masyarakat madinah yang telah lama dan begitu banyak mengalirkan darah karena kebencian diantara Bani Aus dan Kkhazraz mampu terhapuskan dengan jalan penyelasaian yang begitu halus dan diplomatis. Hanya dengan 47 pasal Rasulullah Saw. mampu mendamaikan negara yang baru saja beliau diami, menumbuhkan rasa nasionalisme dan membentuk sebuah koalisi bahkan beliau mampu menjadi pemimpin dalam koalisi tersebut dan melindungi umat Islam dari kafir Quraiys.
D.    Peranan Politik dan Kepemimpinan Dalam Pengembangan Masyarakat Islam
Perana politik dan kepemimpinan dalam pengembangan masyarakat Islam sangat banyak berpengaruh, salah satu bukti dari pernyataan tersebut, bisa kita kaji dalam sejarah pemerintahan dua dinasti pasca khulafaurrasyidin. Pada masa pemerintahan dinasti Umayah, hanya pada masa pemerintahan sebagian khlalifahlah yang mencapai keberhasilan dalam pengembangan masyarakat dengan kapasitas, kridibilitas dan elektabiltas pemimpinnya. Begitu pula pada masa daulah bani Abbasiyah  dan setiap pemerintahan yang pernah ada di muka bumi ini termasuk sekarang yang sedang kita jalani.
E.     Perubahan sistem politik dari sistem demokrasi ke otoritarian
Perubahan sistem politik dari sistem demokrasi menjadi sistem toritarian merupakan klimaks dari perseteruan yang timbul dari pembunuhan Khalifah Umar bin Khatab oleh Abu Lu-luah, dan pemberontakan yang dimotori oleh propaganda Abdullah bin Saba terhadap sahabat-sahabat utama khalifah Utsman sehingga Utsman pun terbunuh, peristiwa tersebut terjadi 18 Zul Hijjah 35 H/656 M[11].
Dalam masa berkabung, pengikut Utsman sedang sibuk mencari siapa yang telah membunuh Utsman, Ali bin Abi Thalib kemudian dibaiat sebagi pengganti khalifah Utsman. Dari sinilah mulai timbul perseteruan yang berkepanjangan, terlabih-lebih ketika Ali menyusun kebijaksanaan dan mengambil kembali tanah yang telah diberikan oleh Utsaman kepada para kepala wilayah yang diangkat oleh Utsman[12].
Dari kebijakan yang diambil oleh Khalifah Ali ternyata mengundang sejumlah persoalan dan friksi plitik di tubuh pemerintahan Ali, terutama keluarga Muawiyah bin abu Sufyan yang bertekad menyusun dan memperkuat barisan untuk melawan Ali. Diikuti oleh Aisyah, Abdullah bin Zubair dan Thalhah ikut memberntak dan menuntut bela atas kematian Utsman. Peperangan mulai terjadi, seperti perang unta dan perang siffin. Di tengah peperangan antara kelompok Ali dengan kelompk Muawiyyah yang terus terdesak, Amru bin Ash, dengan siastnya, menusuk al-quran dan di acungkan sebagai tanda perdamaian “tahlim” akan tetapi setelah terjadi perundingan antara Ali dengan Muawiyyah, pengikut Ali terpecah menjadi dua golongan yaitu, Syi’ah (pendukung Ali) dan Khawariz (yang keluar dari barisan Ali). Setelah kejadian itu, timbulla rencana pembunuhan terhadap Ali dan Muawiyyah akan tetapi hanya Ali yang berhasil dibunuh.
Perseteruan dan pemberontakan terus berlanjut sekalipun Muawiyyah telah dilantik sebagai Khalifah pengganti khalifah Ali. Fenomena ini menjadi salah satu faktor utama mengapa sistem plitik dari demokrasi (musyawarah) menjadi otoritarianistik (turun temurun). Syi’ah telah mengangkat Hasan Putera Ali sebagai khalifah akan tetapi tidak diakui oleh kebanyakan masyarakat karena lebih memilih Muawiyah sebagai khalifah. Salah satu strategi dan kebijakan Muawiyah adalah menunjuk putera mahkota Yazid sebagai pengganti khalifah, yang bertujuan untuk mempertahankan dinastinya yang penuh dengan ancaman baik dari kelompok Syi’ah maupun kelompok Khawariz maka begitulah seterusnya pemerintahan dinasti Umayyah (otoritarian) samapi dinasti ini tumbang dan digantikan oleh dinasti Abbasiyah yang sama-sama menjalankan sistem otoritarian (turun-temurun).
F.     Yahudi Diusir dari Bumi Madinah
Dan jikalau tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka-benar-benar Allah mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka..
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menetang Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah angat keras hukuman-Nya.[13]
Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali mulai memerangi kamu? Mengapa kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar yang beriman.[14]

Kaum Yahudi yang tinggal di Madinah adalah Yahudi Bani Qoinuqo, Bani Nadzir dan Bani Qurazhah. Ketiga bani ini adalah kelompok yang ikut serta dalam penandatanganan watsiqoh (piagam) madinah. Akan tetapi, mereka semua pada akhirnya melanggar perjanjian-perjanjian yang telah disepakati sehingga akhirnya Rasulullah mengusir mereka dengan cara yang kasar.
Yahudi Bani Qainuqa pergi meninggalkan Madinah sebagai orang-orang yang terusir dan terhina (karena mengkhianati Piagam Madinah). Sebagian besar dari mereka tinggal di wilayah Adzra’at (termasuk kawasan Syam). Sedangkan Sebagian besar bani Nadzir akhirnya menetap di daerah yang terletak antara Khaibar dan Syam.
G.    Masjid Sebagai Salah Satu Simbol Komunitas Muslim
Pembangunan masjid Quba sebagai langkah awal simbolis bahwa pembanguna masyarakat Islam harus dimulai dari masjid. Karena itu,benarlah apa yang dikatakan oleh Sidi Gazalba, bahwa masjid bukan semata sebagai tempat sembahyang, melainkan juga sebagai pusat peradaban.[15]

Tidak seperti yang kita saksikan sekarang, masjid pada masa Rasulullah Saw. Dijadikan sebagai tempat yang memiliki multi fungsi dalam setiap pembinaan, pembentukan dan pemberdayaan masyarakat sehingga masjid menjadi sibo kmunitas Muslim yang solid. Sedangkan yang lebih ironis dan sangat memprihatinkan sekarang ini adalah masjid yang berjumlah ratusan bahkan ribuan dalam satu kota/kabupaten namun keberadaan masjid hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan shalat jum’at semata dan pada hari-hari selain hari Jum’at masjid tersebut tertutup rapat dan pintu terkunci.
Padahal begitu jelas dalam al-quran, bahwa Allah SWT. Memrintahkan kepada segenp kaum yang mengaku beriman agar selalu memakmurkan masjid. Dalam QS. At-Taubah: 18 Allah berfirman:
Hanya yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-rang yang diharapkan termasuk rang-rang yang mendapat petunjuk.[16]

Selain itu, dalam sejarah umat Islam dijelaskan bahwa Rasulullah memfungsikan masjid Quba dan masjid Nabawi setidak-tidaknya memiliki sepuluh fungsi utama dalam memberdayakan masyarkat Islam, bahkan menurut sebagian pemuka agama Islam kesepuluh funsi ini menjadi tolak ukur sebuah masjid yang dibangun atas dasar ketaqwaan. Sementara Rasulullah Saw. Pernah memberikan sebuah instruksi untuk menghancurkan masjid yang tidak sesuai dengan fungsinya yaitu masjid yang dibangun oleh orang munafik (Abdullah bin Ubay). Adapun sepuluh fungsi utama masjid Nabawi tersebut adalah:
1. Tempat ibadah (shalat, zikir).
 2. Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial budaya).
 3. Tempat pendidikan.
 4. Tempat santunan sosial.
 5. Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya.
 6. Tempat pengobatan para korban perang.
 7. Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa.
 8. Aula dan tempat menerima tamu.
 9. Tempat menawan tahanan, dan
10. Pusat penerangan atau pembelaan agama.
Menurut sejarahwan, masjid pada masa Rasulullah mampu berfungsi sedemikian rupa itu, disebabkan leh beberapa faktor yang diantaranya adalah:
1.      Keadaan masyarakat yang masih sangat berpegang teguh kepada nilai, norma, dan jiwa agama.
2.      Kemampuan  pembina-pembina  masjid  menghubungkan  kondisi sosial  dan  kebutuhan  masyarakat  dengan uraian dan kegiatan masjid.


















REFERENSI
1. Al-Quranul kariem
2. Shaleh, Qomaruddin. 1978. Khutbah Jum’at Bahan Dakwah (Basa Sunda). Bandung: CV. Diponegoro
3. Hasbi, Khahar Muzakar. 2007. Sejarah Perkmbangan Kebudayaan dan Peradaban Isalm. Bandung: Solo Press
4.  Mukhsin, Khalid. 1992. Debat Islam dan Sekuler. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar
5.  Ali, Khalid Sayyid. 1991. Surat-surat Nabi Muhammad. Jakarta: Gema Insani Press
6. Machendrawati ,Nanih dan Agus Ahmad Safei. 2001. Pengembangan masyarakat islam: dari Ideologi, Strategi sampai Tradisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
7.  Trj. Madkour, Ibrahim. 2009.  Aliran Dan Teori Filsafat Islam. Yogyakarta: Bumi Aksar
8. Ridwan ,Aang. Materi Perkuliahan Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam, Jurusan BPI, KPI, MD, Humas dan PMI FIDKOM UIN SGD BDG. Hand Out..:2006/200
9. Peradaban-Islam-Pada-Masa-Daulah-Bani-Abbasiyah. http//afirmanto.blogspot.com (diposkan oleh Menuju Cahaya di 15:17)
10.   Rasulullah Mengusir Yahudi dari Madinah. imron fauzi in. 28 Mei 2010


[1] Nanih Machendrawati dan Agus Ahmad Safei. Pengembangan masyarakat islam: masalah dan jalan keluar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001,) Hal. 21 pada BAB V “Masyarakat Islam dalam Lintas Sejarah”
[2] Kahar Muzakar Hasbi. Sejarah Kebudayaan Dan Peradaban Islam.(Bandung: Solo Press, 2006) hal. 61
[3] Kholid Sayid Ali.Surat-surat nabi Muhammad, (Jakarta:Gema Insani Press, 1990) hal.51 pada bagian tulisan Sikap Kisra Pada Surat Nabi.
[4] Agus Ahmad Syafei, op.cit. hal22
[5] Kahar Muzakar, op.cit. hal 64
[6] ibid. hal. 56
[7] Terjemahan Ibrahim Madkour, Aliran Dan Teori Filsafat Islam, (Yogyakarta: Bumi Aksar, 2009) hal.116 tentang Pertumbuhan Filsafat Islam
[8] http//afirmanto.blogspot.com/2010/04/Peradaban-Islam-Pada-Masa-Daulah-Bani-Abbasiyah. (diposkan oleh Menuju Cahaya di 15:17)
[9] Ibid, hal. 3
[10] Ibid, hal.4
[11] Kahar Mudzakar Hasbi. Op. Cit. Hal.62
[12] Ibid.
[13] Qs al-Hasyr: 3-4
[14] QS. At-Taubah: 13
[15] Agus Ahmad Syafei, op.cit.
[16] QS at-Taubah; 18

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar